Ketika Tragedi Menjadi Rutinitas : REFLEKSI GURU DAN SISWA

Pendidikan 01 Jul 2026 08:27 3 min read 171 views By Gus Isqowi
Ketika Tragedi Menjadi Rutinitas : REFLEKSI GURU DAN SISWA
Ketika Tragedi Menjadi Rutinitas: Menggugat Batas Simpati Masyarakat.

Ketika Tragedi Guru dan Siswa Hanya Menjadi "Berita Sepekan" 

Sebuah tayangan berita pagi di layar kaca menampilkan tajuk yang menyayat hati : “Guru SD Tewas Ditusuk Siswi SMP”. Di bawahnya, wajah Kapolres OKU Selatan memberikan keterangan normatif. Kejadian ini begitu di luar nalar. Seorang pendidik meregang nyawa di tangan seorang anak yang secara usia bahkan belum matang secara emosional. 

Siklus "Kaget" yang Kedaluwarsa dalam Seminggu 

Skenarionya selalu sama dan mudah ditebak. Orang-orang akan kaget, mengelus dada, lalu mengutuk situasi di kolom komentar media sosial selama tiga sampai tujuh hari. Kasus ini diakui tidak akan sebesar drama hukum Vina Cirebon atau Ferdy Sambo yang menyita perhatian berbulan-bulan. Mengapa? Karena tidak ada intrik konspirasi tingkat tinggi di dalamnya. Ini "hanya" potret kerusakan moral di akar rumput.

Aparat penegak hukum akan bergerak cepat sesuai Prosedur Operasional Standar (SOP). Mengingat pelaku masih di bawah 18 tahun, payung hukum Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) akan mengambil alih. Hasil akhirnya bisa diprediksi : vonis ringan atau diversi. Keadilan bagi korban sering kali terasa abu-abu ketika berhadapan dengan regulasi pelaku anak. 

Seminar, Anggaran, dan Formalitas yang Melelahkan

Paling jauh, riak dari tragedi ini hanya akan menyentuh dinding akademis dan birokrasi :  

- Pakar pendidikan akan segera menggelar seminar, mendiskusikan "degradasi moral generasi alfa" atau "gagalnya pendidikan karakter"

- Birokrat akan sibuk merancang anggaran baru untuk program mitigasi kekerasan di sekolah — yang entah efisien atau tidak di lapangan.

- Sidang pengadilan akan berjalan sunyi, jauh dari sorot kamera prime-time. 

Semua itu bergerak dalam lingkaran formalitas. Ketika dokumen laporan selesai dijilid dan seminar ditutup dengan sesi foto bersama, masalah utamanya tetap tertinggal di bawah karpet. 

Dan  masyarakat akan seperti biasa... Sehari-hari sibuk cari makan.

Normalisasi Tragedi demi Sesuap Nasi

Ini bukan sepenuhnya salah masyarakat. Di tengah himpitan ekonomi dan kerasnya bertahan hidup, simpati publik telah menjadi komoditas yang mahal. Kita tidak punya cukup ruang mental untuk meratapi tragedi orang lain berlama-lama ketika perut sendiri atau keluarga belum tentu kenyang esok hari. Tragedi yang seharusnya memicu reformasi besar-besaran dalam sistem perlindungan guru dan pendidikan anak akhirnya tergilas oleh rutinitas urban: macet, kerja, bayar tagihan, lalu tidur. 

Kesimpulan

Kasus tewasnya guru SD di OKU Selatan ini adalah alarm keras yang sayangnya berbunyi di tengah ruangan orang-orang tuli. Jika kita terus membiarkan tragedi seperti ini menguap hanya dalam waktu sepekan, kita sedang menabung bom waktu.

Kita tidak boleh membiarkan kematian seorang guru hanya berakhir menjadi statistik atau bahan diskusi ruang seminar. Sudah saatnya ada tindakan nyata — baik dari penegakan hukum, evaluasi sistem pendidikan, hingga kepekaan lingkungan sekitar — sebelum kejutan-kejutan mengerikan berikutnya mendatangi kita, dan kita kembali terhenyak... untuk seminggu saja.

Tentang Penulis 

Gus Isqowi adalah Maestro Muhasabah, Founder Rumah Dai dan Pengasuh Majlis Pulang, penggagas Metode Pulang Berbasis Gravitasi Spiritual, serta arsitek gerakan dakwah dan pemberdayaan ustadz.

Chat with us on WhatsApp