Wajah Pendidikan 2026: Modernisasi Tangsel & Tantangan Pendidikan Nasional

Pendidikan 10 May 2026 15:44 2 min read 52 views By Aba Fadaukas

Share berita ini

Wajah Pendidikan 2026: Modernisasi Tangsel & Tantangan Pendidikan Nasional
"Pendidikan Indonesia: Megah di Luar, Rapuh di Dalam?"

Wajah Pendidikan Kita: Antara Megahnya Gedung dan PR Perlindungan Anak

 

TANGERANG SELATAN – Potret pendidikan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menampilkan dua sisi koin yang kontras. Di satu sisi, akselerasi pembangunan fisik tampak masif, namun di sisi lain, kerentanan sosial dan keamanan anak masih menjadi "lampu merah" yang menuntut perhatian serius.

 

Transformasi Fisik Tangsel

 

Pemerintah Kota Tangsel tengah gencar meremajakan infrastruktur SD dan SMP. Program penghapusan kelas siang melalui modernisasi sarana prasarana menjadi prioritas untuk mengejar Standar Pelayanan Minimal (SPM). Meski demikian, megahnya gedung sekolah baru belum sepenuhnya linear dengan kesejahteraan siswa.

 

Data menunjukkan tantangan berat pada angka putus sekolah yang sempat menembus angka 10.000 anak. Selain itu, isu keamanan seperti kekerasan seksual yang melibatkan oknum pendidik menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan lokal. Upaya investigasi dan pendekatan "Asah, Asih, Asuh" kini sedang diuji efektivitasnya untuk menciptakan sekolah yang benar-benar aman, bukan sekadar indah dipandang.

 

Cermin Retak Pendidikan Nasional

 

Kondisi di Tangsel sejatinya adalah mikrokosmos dari permasalahan pendidikan di Indonesia secara umum. Merujuk pada data historis PISA dan World Bank, kualitas pendidikan Indonesia secara konsisten masih menempati peringkat bawah di kancah global. 

 

Setidaknya ada tiga faktor krusial yang menjadi akar persoalan nasional:

  1. Ketimpangan Akses: Jurang kualitas antara wilayah pusat (seperti Jakarta) dan daerah pelosok masih sangat lebar. Kemampuan literasi siswa di daerah timur, misalnya, seringkali tertinggal jauh dari rekan sejawat mereka di ibu kota. 
  2. Fasilitas yang Lapuk: Secara nasional, lebih dari 50% ruang kelas di jenjang SD dilaporkan dalam kondisi rusak (ringan hingga berat). Hal ini menghambat terciptanya suasana belajar yang kondusif. 
  3. Kualitas Pengajar: Kompetensi guru yang belum merata, di mana banyak pengajar terpaksa mengampu mata pelajaran di luar bidang keahliannya akibat kurangnya distribusi SDM. 

 

Menuju SDM Berkualitas

 

Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan investasi kualitas hidup dan kemajuan bangsa sesuai amanat UUD 1945 Pasal 31. Martinus Tukiran (2020) menegaskan bahwa kualitas SDM suatu negara bergantung penuh pada kualitas pendidikannya.

 

Untuk itu, sinergi antara pemerintah pusat, daerah seperti Tangsel, dan masyarakat menjadi harga mati. Perbaikan tidak boleh berhenti pada polesan fisik gedung, melainkan harus menyentuh akar perlindungan anak, pemerataan akses, dan peningkatan kualitas kompetensi guru. Tanpa perbaikan sistemik, visi Indonesia Maju akan terus terganjal oleh rendahnya daya saing anak bangsa di era globalisasi.

AzkaNova
Chat with us on WhatsApp