REPORTASE KHUSUS: Merawat Ikatan Sejarah dalam Sakralitas Prosesi Abon-Abon Keraton Surakarta di Bumi Kadilangu

Peristiwa 25 May 2026 09:03 3 min read 85 views By HRT. Helly Rono Sentiko

Share berita ini

REPORTASE KHUSUS: Merawat Ikatan Sejarah dalam Sakralitas Prosesi Abon-Abon Keraton Surakarta di Bumi Kadilangu
“Ketika Surakarta dan Kadilangu Melebur dalam Doa dan Tradisi.”

REPORTASE KHUSUS: Merawat Ikatan Sejarah dalam Sakralitas Prosesi Abon-Abon Keraton Surakarta di Bumi Kadilangu

 

DEMAK, 24 Mei 2026 – Suasana khidmat dan sarat nilai historis menyelimuti Pendopo Notobratan, Kadilangu, Demak. Tepat pada Minggu hari ini, esensi dari pelestarian budaya Jawa kembali ditegaskan melalui prosesi sakral Abon-Abon Keraton Surakarta Hadiningrat, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian perayaan Grebeg Besar Demak 2026

 

Acara ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah jembatan waktu yang menegaskan kembali hubungan kultural mendalam antara Keraton Surakarta dan Kasepuhan Kadilangu.

 

Berikut adalah catatan reportase dari jalannya prosesi agung tersebut:

 

 1. Sambutan Hangat bagi Sang Sinuhun dan Semarak Visual Tradisi

 

Langkah kaki memasuki area Pendopo Notobratan langsung disambut oleh bentangan spanduk resmi bertuliskan, "Sugeng Rawuh Sinoewoen Kanjeng Soesoehoenan Pakoeboewono XIV & Bupati Demak Beserta Rombongan Ing Tlatah Kadilangu." Kalimat ini menjadi penanda legasi dan penghormatan tinggi atas kunjungan resmi sang raja ke tanah suci Kadilangu. 

 

Tidak jauh dari gerbang utama, poster resmi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Demak turut memamerkan peta rute kirab serta rangkaian acara pendukung, termasuk pertunjukan Barongan Duto Simo Rekso. Kolaborasi apik ini mempertegas sinergi antara tiga kekuatan prajurit: Prajurit Surakarta, Prajurit Bintoro, dan Prajurit Kadilangu. 

 

2. Gagahnya Busana Jawi Jangkep dan Simbol Kesetiaan Trah Leluhur

 

Memasuki area utama pendopo, aura kewibawaan begitu terasa. Para sesepuh, panitia, dan perwakilan keluarga besar Kasepuhan Kadilangu tampak berdiri gagah dalam balutan busana adat Jawi Jangkep — perpaduan beskap hitam dan putih, kain jarik batik, serta blangkon yang tertata rapi. Di latar belakang, bendera bertuliskan "Surya Binolong" berkibar anggun, menegaskan identitas dan lambang khas trah Sunan Kalijaga yang terus dijaga eksistensinya. 

 

Di sudut lain, perhatian pengunjung tersedot oleh kehadiran seorang abdi dalem sepuh yang mengenakan pakaian prajurit keraton berwarna merah menyala. Lengkap dengan topi kopiah panjang khasnya dan pedang yang tergenggam takzim, ia berdiri siaga, merepresentasikan kesetiaan dan kesiapan mengawal jalannya seluruh prosesi adat.

 

3. Detik-Detik Sakral Penyerahan Ubarampe Abon-Abon

 

Puncak kekhidmatan terjadi di dalam ruang utama Pendopo Notobratan. Di tengah sorot lampu kamera para awak media dan tatapan takzim tamu undangan, sebuah momen inti terekam dengan sangat magis.

 

Seorang utusan wanita bersimpuh, melakukan sembah sungkem dengan penuh rasa hormat di hadapan para pemangku adat. Di tangannya, terbungkus kain beludru merah berhias aksen emas, terdapat Abon-Abon — berupa minyak kelapa dan ubarampe ritual suci kiriman langsung dari Keraton Surakarta. Penyerahan minyak suci ini menjadi simbol penyatuan spiritual, doa, serta restu yang terus mengalir dari Surakarta ke bumi Demak demi kelancaran Grebeg Besar. 

 

 4. Generasi Muda: Penjaga Api Warisan Leluhur

 

Satu hal yang membuat perayaan tahun ini terasa begitu optimis adalah hadirnya wajah-wajah muda di garis depan. Di depan bangunan Joglo berbahan kayu jati yang estetik dan kokoh, tampak para pemuda-pemudi daerah, termasuk finalis dan pemenang Mas & Mbak Duta Wisata Kabupaten Demak, berdiri mendampingi para tetua. 

 

Mengenakan selempang hitam-emas kebanggaan mereka, kehadiran generasi muda ini menjadi bukti nyata bahwa modernitas tidak lantas mengikis akar budaya. Mereka tidak hanya hadir sebagai penonton, melainkan terlibat aktif sebagai duta yang bangga akan warisan leluhurnya.

 

Catatan Akhir: 

 

Lebih dari Sekadar Ritual Rangkaian prosesi Abon-Abon Keraton Surakarta di Pendopo Notobratan tahun 2026 ini kembali membuktikan bahwa ketahanan budaya Jawa tetap kokoh di tengah gerak zaman. Hubungan historis-kultural antara Surakarta dan Demak bukan sekadar cerita di buku sejarah, melainkan realitas hidup yang terus dirawat. Melalui sinergi pariwisata, spiritualitas, dan keterlibatan lintas generasi, acara ini sukses menjadi simbol pemersatu masyarakat yang menginspirasi. ( Demak , Ahad 24 Mei 2026 )

AzkaNova
Chat with us on WhatsApp